Apa yang gua alamin, gua ceritain — bukan buat validasi, tapi biar suatu hari nanti gua bisa lihat balik dan tau: gua pernah beneran hidup, bukan cuma bertahan.

Gua software engineer yang mutusin buat mulai nulis — bukan soal kerjaan, tapi soal apa yang gua alamin dan rasain tentang hidup. Cara paling jujur yang gua tau buat ngoreksi ulang gimana cara gua mikir dan lihat dunia.

Ada tujuh tahun — dari 17 sampai 23 — yang kebanyakan gua lewatin dalam takut. Takut buka suara, takut memulai sesuatu, takut keluar dari zona nyaman. Nggak ada siapa-siapa yang bisa diandelin selain diri sendiri, jadi satu-satunya pilihan ya bertahan, pelan-pelan, sampai akhirnya di umur 24 ini semuanya mulai punya pijakan — hidup stabil, penghasilan sendiri, dan untuk pertama kalinya, ruang buat napas.

Dari titik itu gau mulai berani dan sadar bahwa

“I only can be what I am.” — Pamungkas, Live Forever"

Bukan cuma soal lebih percaya diri, tapi soal rasa lebih bisa nerima siapa gua sebenernya — dan dari situ tumbuh keinginan untuk melihat dunia lebih luas. Akhirnya mutusin buat mulai traveling dan keluar dari zona nyaman, sesuatu yang dulu bahkan nggak berani dibayangin, apalagi direncanain.

Tapi yang bikin gua benar-benar berhenti sejenak adalah waktu gua lihat orang-orang seumuran dan bahkan yang lebih tua dari gua. Banyak yang usianya sudah “dewasa”, tapi cara mikirnya masih jauh tertinggal — seolah pertumbuhan cuma soal angka, bukan soal jiwa yang ikut berjalan. Dari situ gua sadar: umur bisa nambah sendiri, tapi kedewasaan harus diperjuangkan sendiri.

Dan itulah kenapa blog ini ada. Bukan buat dibaca orang lain, bukan buat dinilai siapa pun — ini surat yang gua tulis buat diri gua sendiri, 10 atau 20 tahun dari sekarang, supaya gua selalu ingat apa yang sudah gua lewati untuk sampai di titik ini, di umur 24.

Ditulis pake markdown, self-hosted, dan yang paling penting — ditulis pake hati.